Thursday, April 12, 2012

Gua Manusia Purba Ditemukan di Tulungagung

Jika Teman-Teman Tidak Keberatan Tolong Di Like Pages Facebook Saya Ya Terima Kasih Sebelumnya
Loading

manusia purba
Setelah selama ini tak pernah lagi diketahui persis keberadaannya, akhirnya gua tempat dokter Belanda, Eugene Dubois, menemukan tengkorak manusia purba, di Kecamatan Wajak, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, ditemukan kembali.

Gua ditemukan Trijono (41), guru sejarah Madrasah Aliyah Negeri 1 Tulungagung, yang juga memimpin lembaga Kajian Sejarah Sosial dan Budaya (KS2B). Trijono terbawa nalurinya sebagai ilmuwan alumnus Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana mencari-cari lokasi kerja Dubois hingga akhirnya menemukannya.

Trijono yang ditemui hari Kamis (12/4/2012) mengungkapkan, telah menguji temuannya berdasar dokumen-dokumen dan catatan sejarah Dubois, dan yakin bahwa lokasi itulah yang merupakan lokasi kerja Dubois tahun 1889 menemukan tengkorak manusia purba Homo wajakensis. Dengan demikian situs-situs manusia Jawa yang ditemukan Dubois sudah kian lengkap, bersama lokasi temuan Dubois lainnya di Trinil, Ngawi (Jawa Timur) dan di Sangiran, Solo (Jawa Tengah).

"Tentu saja lokasi ini memerlukan sebuah pengujian lengkap dan menyeluruh dari para pakar prasejarah untuk memastikan kebenarannya. Saat ini sebuah tim dari Universitas Gajah Mada (UGM) sudah berencana akan melakukan ekspedisi ke gua ini, selain ekspedisi ke lokasi purbakala lainnya di Tulungagung, pada awal Mei 2012 untuk memastikannya," tutur Trijono.

Sumber informasi mengenai karya Dubois ditulis oleh sejarawan Paul Strom dalam buku yang terbit tahun 1995, berjudul Scriptura Geologica, The Evolutionary Significance of The Wajak Skull National Natuurhistorisch Museum, Geboren te's Gravenhage. Melalui pembacaan buku itu, Trijono menelusuri lokasi ini bersama tim K2SB yang dipimpinnya.

Menurut Trijono, selama ini entah mengapa lokasi kerja Dubois ini tak dikenal lagi oleh masyarakat ilmiah dan masyarakat Tulungagung. Hanya dua lokasi kerja Dubois yang dikenal, yakni di Trinil dan Sangiran, yang kini sudah didirikan museum. "Mengapa bisa dilupakan, dan malah tidak diketahui keberadaaannya, saya tidak paham. Saya datang ke Tulungagung tahun 2004 karena diterima bekerja sebagai guru sejarah di MAN 1. Sejak itu saya mencari-cari, bukan hanya gua Homo wajakensis saja, namun juga semua situs sejarah yang lain, termasuk sembilan situs sejarah Majapahit," ungkapnya.

Ada sejumlah tanda tanya, kata Trijono, karena pada masa yang cukup dekat dengan masa sekarang itu, Dubois mencatat bekerja di Wajak, bukan Tulungagung. Kini Wajak adalah nama kecamatan. Itu sebabnya spesies manusia prasejarah itu dinamai wajakensis. "Lalu pertanyaan saya, di mana Tulungagung masa 1889? Wajak hanya berjarak 15 km dari Tulungagung. Mengapa tidak di namai Tulungagungensis? Kami belum selesai menjawab soal itu," katanya.

Buku itu kemudian menuntut Trijono hingga ke gua tempat Dubois menemukan tengkorak manusia purba. Salah satu yang paling meyakinkan karena Trijono menemukan tugu pabrik marmer zaman Belanda, yang disebut Dubois dalam laporannya, bahwa gua manusia purba itu berada di depan tugu marmer itu. "Tugu itu saya temukan, persis seperti penjelasan Dubois. Kalau masa sekarang tugu marmer itu penanda lokasi, seperti kira-kira koordinat GPS," kata Trijono.

Dubois adalah seorang dokter militer Belanda di era tanam paksa (culturr stelsel ). Seperti ilmuwan barat umumnya, Dubois gemar melakukan penelitian. Di lokasi-lokasi kerjanya, Dubois mengisi waktu senggangnya setelah selesai bekerja dengan mencari temuan-temuan purbakala, termasuk saat bekerja di Wajak, Tulungagung.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Pemkab Tulungagung Hendri Sugiarti menjelaskan, pihaknya menyambut sangat baik temuan ini, dan kini malah sudah menyiapkan pembuatan monumen di lokasi tersebut. Saat ini kami sedang hendak menyambut kedatangan tim besar prasejarah dari Universitas Gajah Mada yang hendak melakukan eksplorasi dan penelitian di bekas gua Dubois. "Kami berharap akan bisa membuat museum dan menyiapkan sarana dan prasarana untuk menjadikannya lokasi wisata ilmiah. Namun itu masih akan dibahas oleh Pemkab," katanya.

0 komentar:

Masukan code imotion pada komentar anda agar lebih menarik di bawah ini contoh( :10 )
:10 :11 :12 :13 :14 :15 :17 :18 :19 :23 :26 :28 :30 :31 :32 :33 :34 :35 :36 :38

Post a Comment